Pada era lampau, tokoh ayah dipandang sebagai tokoh patriarki yang memiliki otoritas penuh terhadap keluarganya. Ayah juga dipandang sebagai guru moral dalam keluarga, yang bertanggung jawab memastikan anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai moral yang sesuai. Dalam era industri, terjadi perpindahan nilai peran ayah yang tadinya sebagai tokoh moral menjadi pencari nafkah atau tulang punggung ekonomi keluarga. Di sisi lain, para ahli sosial juga mengangkat potret figur ayah sebagai role model kejantanan (maskulinitas) bagi anak-anaknya. Kemudian pada abad 20 di mana pandangan-pandangan feminis muncul yang menolak stereotipe peran laki-laki dan perempuan, membuat peran ayah dalam keluarga semakin besar, ikut terlibat membesarkan anak.

Perubahan pandangan peran ayah dari era lampau sampai dengan saat ini, menjadi jelas bahwa ayah memiliki peran yang universal baik dalam keluarga maupun di mata anak-anaknya. Anak-anak mengenali ayah mereka dalam berbagai perannya sebagai teman, caregiver, pelindung, teladan, panduan moral, guru dan pencari nafkah. Pandangan-pandangan sempit yang melihat peran ayah dalam perkembangan anaknya sebagai role model kejantanan atau pencari nafkah sebaiknya dibuang jauh-jauh karena tidak benar adanya. Ayah justru memainkan peranan yang jauh lebih besar dalam perkembangan anak-anaknya.

Sebuah penelitian yang dilakukan antara tahun 1940 – 1970 menunjukkan hasil yang mengejutkan bahwa tidak ada hubungan yang konsisten antara perilaku maskulin pada ayah dengan perilaku maskulin pada anak. Justru sebuah studi lanjutan terhadap hasil penelitian tersebut menunjukkan kualitas hubungan ayah-anak lebih penting daripada menekankan peran maskulinitas seorang ayah. Seorang anak laki-laki secara otomatis akan menyesuaikan standar peran seksual dari masyarakat ketika ia memiliki hubungan yang hangat dengan ayahnya. Penelitian lain mengenai peran ayah dalam perkembangan anak juga menunjukkan anak-anak yang memiliki figur ayah yang terlibat aktif dengan mereka, cenderung menunjukkan kualitas karakter yang kritis, memiliki kemampuan berpikir yang baik, empati, terbuka dan memiliki lokus kontrol internal1 yang lebih dominan.

Dengan demikian, jawaban pertanyaan di atas jelas bahwa peran ayah dalam perkembangan anak sungguh penting dan besar. Seorang ayah bukan hanya terbatas sebagai pencari nafkah atau role model maskulin, melainkan ia harus mampu membangun kualitas hubungan yang baik dengan anak-anaknya. Ha l tersebut dapat dilakukan dengan membangun komunikasi dengan cara menanyakan hari-harinya di sekolah, teman-temannya, berdiskusi tentang hal-hal yang menarik baginya atau kejadian hari-hari, melakukan hobi bersama dan mungkin membantunya mengerjakan tugas sekolahnya, serta membacakan cerita sebelum tidur. Selamat mencoba menjadi ayah yang baik.

Comments

Apa Komentar Anda?