Tersebarnya video pengeroyokan siswa perempuan oleh teman sekelasnya di Sumatera Barat kemarin, membuat kita terkejut. Apalagi peristiwa tersebut, terjadi di tingkat Sekolah Dasar dan saat jam sekolah sedang berlangsung dan melibatkan hampir seluruh siswa yang ada di kelas tersebut. Bagi sebagian orang, kejadian tersebut mungkin dianggap biasa padahal baik korban dan pelaku pemukulan tersebut berisiko mengalami masalah kejiwaan. Tetapi banyak yang kurang paham atau bahkan tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan oleh masalah jiwa tersebut, khususnya pada anak.

masalah jiwa pada anak

Umumnya, masalah jiwa pada anak dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu, masalah emosional dan masalah perilaku. Untuk masalah emosional, gangguan yang lazim dialami oleh anak yaitu kecemasan dan depresi. Berdasarkan hasil riset, sampai dari kecemasan dan depresi cenderung akan mengarah kepada risiko menciderai diri sendiri sampai bunuh diri, seperti beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia.

Sedangkan untuk masalah perilaku, kasus paling sering yang dilaporkan yaitu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau anak dengan masalah perilaku yang hiperaktif dan kurang perhatian. Sekilas masalah perilaku tidak terlalu berbahaya dibanding masalah emosional, tetapi penelitian yang dilakukan selama 10 tahun, didapatkan bahwa anak hiperaktif sering terjadi bersamaan dengan kondisi Oppositional Defiant Disorder (ODD) dan Conduct Disorder (CD).

ODD adalah kecenderungan perilaku anak yang menentang dan membantah orang dewasa sedangkan CD tampil dengan prognosis yang lebih buruk, yaitu anak cenderung akan melakukan tindakan melawan hukum, sampai terlibat penyalahgunaan narkoba dan pornografi. Pun begitu, sangat ditayangkan ternyata Indonesia belum memiliki data yang akurat mengenai jumlah anak-anak yang mengalami masalah jiwa, baik emosional maupun perilaku.

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan di kawasan amerika dan Asia, jumlah anak-anak yang mengalami masalah jiwa terus meningkat setiap tahunnya. Di amerika sendiri, jumlah nya diperkirakan 13-20 persen anak-anak mengalami masalah jiwa, jumlah yang sama diperkirakan juga terjadi di kawasan Asia Timur. Tetapi, belum ada data yang valid mengenai kelompok anak dengan masalah jiwa di Indonesia.

Indonesia, melalui menteri PA & PP pernah mengeluarkan peraturan terkait anak dengan kebutuhan khusus, tetapi pemerintah belum dapat menelurkan sebuah kebijakan konkrit, terkait masih simpang siurnya jumlah anak-anak dengan masalah jiwa, apalagi perhatian pemerintah juga masih terkuras untuk masalah jiwa pada orang dewasa. Padahal, bila masalah jiwa dapat dideteksi lebih awal dan diberikan intervensi yang tepat, kita dapat mengurangi risiko gangguan jiwa saat anak menjelang dewasa.

Angka yang sering menjadi rujukan pemerintah yaitu berdasarkan perkiraan dari World Health Organization (WHO) yaitu 10 persen dari jumlah total anak Indonesia mengalami masalah jiwa, berarti dari 24 juta populasi anak Indonesia; 2,4 jutanya mengalami masalah jiwa, artinya bila kelompok ini tidak ditangani dengan tepat, maka risiko perilaku-perilaku menentang hukum, seperti perampokan, pemerkosaan, narkoba, dan terlibat pornografi sampai risiko bunuh diri sangat mungkin terjadi dan menimbulkan kerugian bagi semua pihak.

Meski masalah yang dihadapi cenderung besar, tetapi penyelesaian masalah paling mudah sebenarnya ada ditangan orang tua, karena sebagian besar masalah jiwa pada anak dipicu dari dalam keluarga, mulai dari komunikasi sampai cara menghukum anak. Islam telah mengajarkan kita agar memberikan hukuman dengan tidak menyakiti si anak ketika anak tidak mau mengerjakan sholat, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Rasul bersabda:

perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat usia mereka tujuh tahun dan pukullah mereka saat berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka (HR. Abu Daud Dan Ahmad).

Bila ditelaah dengan seksama, ada dimensi waktu dan metode pendekatan untuk yang baik untuk memperkenalkan konsep ibadah kepada anak.

Berdasarkan hadis diatas, Rasulullah menekankan bahwa waktu tiga tahun dapat digunakan sebagai sarana pembiasaan bagi si anak, sehingga diharapkan anak dapat memahami dan mengerti konsep sholat. Saat usia 10 tahun, anak dianjurkan untuk diberikan pukulan, karena pada usia tersebut anak sudah dapat berfikir konkrit dan paham mengenai konsep hukuman yang diberikan oleh orang tua, tentu saja tanpa perlu menyakiti anak.

Mengingat peran orang tua yang sangat penting, maka dianjurkan kepada orang tua untuk memperbaiki hubungan orangtua-anak, dengan cara meluangkan waktu untuk sekadar bertanya aktivitasnya di sekolah, apa yang disukai dan tidak disukai si anak serta memberikan kesempatan yang luas kepada anak untuk menyampaikan perasaan dan harapannya, baik terhadap orang tua maupun lingkungan sekolah. Sehingga, dengan demikian, kondisi sehat jiwa anak dapat ditingkatkan demi terwujudkan generasi penerus bangsa yang kuat secara jasmani dan rohani.

 

Ns. Fauzan Saputra

Perawat Jiwa Anak dan Mahasiswa,

Mahasiswa S2 di Faculty of Nursing, Jurusan Psychiatric Nursing, Chulalongkorn University, Thailand.

Comments

Apa Komentar Anda?