Sahabat Ummi, anak yang terlahir dari rahim ibu, ternyata membawa berbagai macam perasaan bagi orangtuanya. Hal ini bisa dipahami karena tidak semua anak seperti yang kita harapkan, karena membawa karakter, sifat sendiri yang satu sama lain berbeda. Akan tetapi sebagai orang tua tentu tidak begitu saja menyerah dengan keadaan yang menyertai anak. Entah ia menjadi anak yang bandel, anak yang sering menyusahkan orangtuanya, anak yang lemah dari segi kesehatan maupun akalnya atau bahkan di kemudian hari menjadi ‘musuh’ bagi keluarga dan orangtuanya. Na’udzubillah…

Anak yang penurut, manis dan baik hati, sehat jasmani dan rohani adalah dambaan setiap orang tua apalagi memiliki anak yang shalih. Didalam Islam, ternyata ada beberapa tipe anak yang dikategorikan oleh para ulama, yakni:

1. Anak sebagai hiasan hidup dan penyejuk bagi orang tuanya

Tentu hal iniakan sangat menyenangkan memiliki anak sehat lahiriyah dan batiniyah dan  kehadiran yang sangat ditunggutunggu ini menjadi hiasan hidup yang sangat indah dipandang mata. Kedatangannya bukan musibah melainkan anugerah. Menjadi hiasan yang baik sekaligus penyejuk tidak akan terjadi jika ada kesalahan dalam pola asuh anak.

Untuk itu dalam hal ini orang tua harus cermat dan mengambil kendali utama menjadikan anak seperti yang diinginkan. Hingga menjadi putih, hitam atau abu-abu jiwa dan kehidupan mereka, itu sebenarnya berkat didikan orang tua. Jika berhasil, maka orang tua akan menabung surga kelak saat mempunyai anak shalih yang pandai mendoakan orangtuanya.

Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Juga terdapat dalam ayat-Nya: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri  kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Furqon: 74)

2. Anak sebagai cobaan hidup

Akan sangat berbeda dengan hal pertama tadi jika kehadiran anak menjadi cobaan hidup keluarganya. Bukan hanya karena cacat bawaan yang dideritanya, namun juga perlakuan anak  yang tidak menyenangkan atau bahkan cenderung amoral. Han ini,  pada dasarnya akan menjadi pukulan terberat juga cobaan hidup yang tidak ringan bagi orangtuanya.

Allah berfirman:  “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

3. Anak yang lemah

Mempunyai keturunan anak yang lemah merupakan hal yang cukup menyedihkan. Lemah disini bisa berarti lemah tubuh atau akalnya, bisa jadi lemah dalam ilmu pengetahuan, lemah dalam wawasan hidup, lemah segi kemampuan fighting dalam menjalani kehidupan, lemah dalam segi akidah dan lain sebagainya.

Allah berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

Agar tidak menjadi seperti yang disitir dalam Al-Qur’an, hendaknya orangtua membekali anaknya dengan sistem imun terbaik baik  bagi tubuhnya, banyak wawasan pengetahuan dan kehidupan, kemampuan yang mumpuni, memantau perkembangan mentalnya  agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan juga bekali dengan akidah yang baik. Karena bisa jadi, sesuatu yang bersifat lemah menjadi cikal bakal cacat tubuh dan mental yang permanen, kriminalitas anak dan tindakan amoral lainnya.

4. Anak sebagai musuh

Allah berfirman: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs At Taghabun: 14)

Musuh dalam arti saat anak menjadi pembangkang tidak lagi menuruti nasihat orang tua dan mendengarkan petuah bijak orang-orang sekelilingnya, belajar menjadi pembohong, tidak malu lagi melakukan hal tercela dan maksiat dan mulai melupakan untuk beribadah kepada Allah. Dan hal ini merupakan puncak kesedihan dan kegagalan dari pola asuh orang tua.

Oleh sebab itu sahabat Ummi, apapun tipe anak, ia adalah lembaran putih, orangtualah yang sebenarnya memberi torehan istimewa pada lembaran putih anak. Ia akan menjadi Muslim, Nasrani atau Yahudi adalah campur tangan orang tua. Jadilah orang tua terbaik dalam membentuk pribadi anak. Semoga kitalah yang menjadi pemenang memperoleh anak yang shalih penyejuk hati keluarga, aamiin.

Referensi:

1. Lisdy Rahayu dan Candra Nila MD, 2015, Istri Bahagia berpedoman pada Al Qur’an dan Hadis, Qibla, Jakarta.

Comments

Apa Komentar Anda?