Sahabat Abi Ummi, kasus mengenai LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) yang kian merebak tidak dimungkiri menimbulkan kekhawatiran pada tiap orang tua. Pembelaan atas nama hak asasi membuat LGBT seakan menjadi tren yang kian hari tidak asing lagi, bahkan tiap negara kini berusaha melegalkan pernikahan sesama jenis. Sahabat Abi Ummi, tentu kita kerap berpikir dan merasa was-was jika anak terkena dampak perilaku menyimpang ini, entah sebagai korban maupun pelaku. Meski bahayanya telah diriyawatkan oleh Alquran, toh, perilaku ini tetap ada dan berkembang. Demi menjaga kualitas diri anak agar terhindar dari perilaku homoseksual, berikut yang dapat kita lakukan. Yuk, disimak!

1. Menegaskan Identitas Seksual Anak dan Membiasakannya Berperilaku sesuai Identitas

Pola asuh orang tua amat penting di sini. Sebagai sekolah pertama yang akan ditemui anak, keluarga, khususnya orang tua, hendaknya kita dapat menanamkan pendidikan seksual sejak dini. Bedakan perilaku pada anak laki-laki dan perempuan. Biasakan mereka untuk memiliki dan menyukai sesuatu hal yang sesuai jenis kelaminnya, misalnya boneka diberikan kepada anak perempuan, sedangkan mobil-mobilan diberikan kepada anak laki-laki. Ajarkan juga anak untuk memahami dientitas seksualnya untuk membiasakan mereka berperilaku sesuai seharusnya. Sebagai contoh, seorang anak perempuan diberi ketegasan bahwa ia berbeda dari anak laki-laki sehingga pakaian dan cara berdandannya pun harus berbeda, jangan menyerupai.

2. Jangan Biasakan Anak Memperlihatkan Bagian Tubuh Tertentu di Depan Umum

Hal yang wajar ketika anak masih bayi, kita sebagai orang tua terbiasa mengganti bajunya dan membersihkan popoknya di depan umum. Namun, perlahan ketika anak makin dewasa, kita harus secara bijak dan sopan dalam menyentuh area pribadi anak. Mintalah izin ketika ingin mengganti pakaiannya, larang mereka ketika ingin buang air sembarangan atau tidak pada tempatnya, dan beri tahu bahwa mereka memiliki area pribadi yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain, kecuali oleh diri mereka sendiri dan mungkin Ummi ketika anak masih kecil. Dengan cara ini, anak lambat laun akan memahami bahwa aurat yang ada di tubuh mereka adalah hal yang harus dijaga dengan baik.

3. Pisahkan Tempat Tidur Anak agar Mereka Mandiri dan Memahami Perbedaan Gender

Perintah ini sejalan dengan isi hadis bahwa sebaiknya anak mulai diperintahkan salat dan tidur terpisah ketika berusia 7 hingga 10 tahun. Bahkan, kita berhak bersikap tegas pada mereka jika aturan main ini tidak dipenuhi. Sesekali, anak mungkin merengek untuk minta ditemani tidur oleh orang tua atau kakaknya, terlebih ketika sakit atau sedang manja. Siasati dengan memberi nasihat secara lembut bahwa kita akan menemaminya tidur kali itu saja karena anak harus belajar mandiri dan usianya sudah cukup dewasa untuk tidur terpisah.

4. Melindungi dan Menjauhkan Anak dari Berbagai Stimulus Perilaku Menyimpang

Nafsu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, baik untuk makan, minum, maupun berhubungan seksual. Dengan nafsu, manusia dapat bertahan hidup dan mempertahankan keturunannya. Tapi, pemenuhan yang tidak sesuai syariat tentu akan mendatangkan keburukan, baik di dunia maupun akhirat. Dengan makin merebaknya kasus homoseksual, tentu membuat paparan akan hal ini makin banyak, misalnya dari film, berita, hingga pembicaraan sehari-hari. Dampingi perkembangan anak agar kita dapat mengetahui kira-kira hal apa saja yang mereka lihat dan dengar sehari-hari dari lingkungannya. Berusahalah untuk jangan cuek dan terlalu membebaskan karena tuntutan zaman, tapi tetap beri anak kemudahan akses untuk bertanya kepada kita sebagai orang tua tentang masalah tersebut.

5. Perkuat Ilmu Agama Anak dan Ceritakan Kisah-Kisah Tuntunan, Khususnya tentang Nabi Luth

Agama adalah fondasi penting dalam membentuk karakter anak. Menjadi contoh bagi mereka adalah langkah awal dalam mendidik. Dalam kehidupan sehari-hari, ajarkan ilmu agama dalam setiap sendi dan kegiatan. Sering-sering menceritakan kisah keagamaan, seperti kisah nabi dan para sahabat. Berkaitan dengan kasus ini, cerita yang paling cocok adalah kisah Nabi Luth.

Sahabat Abi Ummi, mari menciptakan generasi yang kelak menjadi khalifah terbaik di bumi Allah ini. Ajarkan anak-anak kita hal-hal penting yang akan menjadi kebiasaannya. Dampingi perkembangan anak dan jadilah contoh yang baik bagi mereka. Mengapa? Because parents is the first role model for their child.

Comments

Apa Komentar Anda?